Jumat, 17 Oktober 2014

Pendakian Pertamaku ke Gunung Gede

Bogor - Wisata gunung, seharusnya menjadi pilihan kesekianku apabila dibandingkan dengan pantai. Pengalaman pertama menikmati keindahan gunung saat saya berkunjung ke Gunung Bromo yang berada di Jawa Timur. Wisata Gunung Bromo bukan merupakan aktivitas mendaki gunung, hanya memandang keindahan Gunung Bromo yang berdiri kokoh diatas awan dan terlihat sangat indah saat sunrise.

Sebagai selingan liburan yang berbeda sekaligus menambah pengalaman akhirnya saya bergabung dengan teman yang ingin mendaki Gunung. Gunung Gede Pangrango, menjadi tempat dimana aku mendapatkan pengalaman pertamaku mendaki gunung sekaligus camping. Dengan bergabung bersama delapan orang lainnya akhirnya kami mendaftar untuk pendakian kami ke Gunung Gede.

Sunset di Puncak Gunung Gede
(backgroundnya Gn.Pangrango)

Awal Pendakian
Pendakian pada sabtu itu, 13 September 2014, ternyata kita bersamaan dengan banyak pendaki lain dan ada acara lomba kebut gunung. Perjalanan menjadi terasa ramai dan menyenangkan karena kita akan selalu bertemu dengan para pendaki lain selama perjalanan.

Baru beberapa saat dari pos pendakian, melewati jalanan bertangga dan belum banyak tanjakan yang berarti, kepala terasa berputar, pandangan mulai kabur, dan wajah mulai memucat. Sempat minta istirahat sebentar sambil menengok kebawah, "Sudah jalan seberapa jauh ya? pengen turun aja ah daripada semakin keatas nanti semakin merepotkan temen lainnya" kataku dalam hati.

"Makan dulu, tadi sudah makan belom?" tanya seorang teman. Akhirnya kita beristirahat sebentar sambil menyantap burger McDonalds yang tadi kita beli. Minum cukup air dan kepala sudah tidak terasa berputar kita akhirnya melanjutkan perjalanan pendakian.

Mendaki gunung tidak hanya dibutuhkan kesiapan fisik sebelum pendakian, tetapi mental juga harus disiapkan untuk mencapai puncak. Jika kita berpikir ingin berenti sebelum sampai puncak maka semangat pun hilang dan itu lebih buruk walaupun sudah menyiapkan fisik sebelum mendaki.

Perjalanan Melewati Jembatan Menuju Puncak Gede
Sesekali sambil beristirahat di perjalanan pendakian, kami bertemu dengan para pendaki lain yaing saling menyemangati.

"Semangat.. Semangat.. 30 meter lagi" Seru pendaki lain yang ternyata baru aku tau diakhir perjalanan, itu hanya kata-kata PHP untuk menyemangati kita menyelesaikan pendakian, padahal masih jauhh.

Sumber air Panas
Melewati jalanan berbatu dan menanjak, jembatan, dan akhirnya kita harus melewati sumber air panas dengan suhu 70 derajat Celcius. Disini kita harus berhati-hati karena jalanannya yang licin dan suhu airnya yang panas.

Saat melangkah melewati jalan yang menanjak, saya hanya menunduk sambil tetap melangkah tanpa melihat keatas karena saya tau mental saya sebenarnya tidak cukup besar untuk mendaki. Selalu ada rasa ingin berenti dan turun lagi menuju pos awal pendakian. Tapi disitulah seni dari pendakian gunung yaitu kita tidak tahu sudah berapa lama kita berjalan, sudah seberapa jauh kita melangkah, dan kita hanya memiliki pilihan untuk melanjutkan perjalanan sampai selesai.

Spot pertama untuk istirahat cukup lama yaitu di Kandang Batu. Disana banyak pendaki yang mulai mendirikan tenda dan ada beberapa dari mereka yang memutar musik dengan speaker sambil memasak.
Kita tidur-tiduran sebentar, makan, dan akhirnya lanjut lagi menuju spot kedua untuk berhenti cukup lama yaitu Kandang Badak.

Istirahat di kandang badak


Dari 9 peserta dalam 1 regu kita, kita di pandu oleh sang Ketua, Harris dan Adit yang sudah lebih pengalaman mendaki gunung. 

Masih lama ni Dit? Pertanyaan yang sama di tiap tanjakan yang melelahkan.

Dan dengan jawaban yang selalu sama, Engga kok dikit lagi tu depan sudah hampir sampai.

Dikit kenapa ga sampai-sampai ya ini? Rasa ngos-ngosan, capek, sudah mulai membuat aku bosan berjalan.

Akhirnya si Ketua memberi semangat kita-kita
bentar lagi sudah sampai puncak, tu liat ke atas, sudah ga kelihatan pohon-pohon, awan terlihat semakin jelas. Berarti kita sudah berada di dataran tertinggi dan akan segera sampai  puncak!

Semakin keatas, medan jalan yang kita lalui semakin curam. Tanjakan yang dilewati juga semakin menguras tenaga. Dengan sisa semangat akhirnya aku dan yang lain tetap berjalan sambil sesekali beristirahat.

Sampai di tikungan terakhir akhirnya kita harus melewati tantangan terakhir yaitu Tanjakan Setan.
Tanjakan ini bikin semangat yang hanya tersisa sedikit seketika habis karena melihat medannya yang curam dan harus menaiki bebatuan dengan bantuan tali yang terikat di ujung pohon di atasnya.


Tanjakan Setan

Tanjakan Setan
Setelah melewati tanjakan setan, akhirnya aroma belerang mulai tercium dari kejauhan. Sudah tidak sabar melihat keindahan puncak Gunung Gede dan akhirnya kita sampai di Puncak bertepatan dengan momen sunset.

Puncak Gede 2958 mdpl
Saat langit mulai menggelap, kita buru-buru foto dengan background Gunung Pangrango dibelakang kita. FYI buat yang belum tau karena aku baru tau setelah di puncak juga. Ternyata Gunung Gede dan Pangrango itu adalah Dua Gunung yang berbeda. Gunung Pangrango sendiri ketinggiannya sekitar 3000an mdpl.

Setelah selesai berfoto-foto, kita bisa melihat pemandangan kota dari Puncak Gunung Gede di Ketinggian 2958 mdpl. Tapi kita tidak lama di Puncak karena perjalanan masih harus berlanjut untuk menuju alun-alun Surya Kencana tempat dimana kita akan mendirikan tenda dan bermalam.

Pemandangan kota dari Puncak Gn. Gede
Sampai di alun-alun surya kencana sekitar pukul 19.30 dan udara di sana sangat dingin. Setelah tenda selesai terpasang, kita semua bersembunyi didalam sleeping bag. Udara malam hari semakin dingin dan kita bersama dalam satu tenda. Sampai akhirnya sekitar pukul 21.30 malam perut mulai lapar akhirnya dengan kedinginan kita memasak bersama sambil menyeduh susu hangat.

Ditengah-tengah kerempongan sambil mengeluarkan bahan makanan untuk dimasak, Vivi mengeluarkan lilin angka 5 dan cupcakes dari dalam tas. Lalu memberikannya untuk aku dan ko Yudi sambil mengucapkan Happy Anniversary, kebetulan beberapa hari sebelum naik gunung kami merayakan anniversary yang ke 5 :)

Mendaki gunung membutuhkan banyak keperluan untuk dibawa, perjalanan panjang yang melelahkan dan ditengah-tengah dinginnya malam di dalam tenda, bahkan untuk bergerak makan saja badan terasa malas karena dingin di malam itu, tetapi dua temen kita, Vivi dan Harris masih menyempatkan untuk memberikan kejutan kecil untuk kita. I'm so thankful to have you, guys!

Minggu, 14 September 2014

Nasi Uduk . . . Nasi Uduk . . .
Teriakan seorang bapak penjual nasi uduk membangunkan kita di pagi itu. Penjual nasi uduk mulai berkeliling menawarkan nasi uduk pada para pendaki.

Entah kapan si bapak mendaki ke puncak untuk menjajakan dagangannya. Tiba-tiba terbayang rute perjalanan menuju puncak kemarin dengan penuh keluhan capek, lama, dll lalu melihat seorang bapak penjual nasi uduk yang pastinya tidak mungkin beliau tinggal gunung. Membayangkan semangatnya mencari uang dengan berjualan nasi uduk di pagi hari dan harus mendaki gunung.

Setelah kita membeli nasi uduk, kita menikmati pemandangan di alun-alun Surya Kencana karena semalam saat kita sampai sudah terlalu malam.

Suasana di sekitar tenda


Hamparan savana yang luas dengan pemandangan bukit berwarna hijau cerah.
Banyak tenda berwarna - warni yang berdiri menghiasi alun-alun Surya Kencana pagi itu. Setelah berfoto-foto kita menyiapkan bahan yang akan dimasak untuk makan pagi sambil menyeduh susu hangat.

Setelah matahari mulai meninggi kita berberes sebelum melanjutkan perjalanan turun. Masing - masing dari kita membereskan barang bawaan masing-masing sambil membersihkan bekas masak memasak kita. Ingat! sekecil apapun sampah bawaanmu, kamu harus membawanya turun. Selain itu kalian dilarang menggunakan bahan-bahan kimia seperti sabun, shampo, dan sejenisnya di area gunung karena akan mencemari lingkungan alam gunung.


Full Team
Setelah semua siap akhirnya kita melanjutkan perjalanan turun melalui jalur Gunung Putri yang katanya jaraknya lebih pendek.Sebelum perjalanan turun kita melewati bunga-bunga edeilweiss.



Bunga Edelweiss

Hamparan Edelweiss


Sambil sesekali foto di hamparan edelweiss kita melanjutkan perjalanan turun sambil mengabadikan gambar selama perjalanan turun. Perjalanan turun melalui Gunung Putri terasa lebih seru dengan track yang tidak terlalu susah daripada pendakian kemarin.



Jangan tinggalkan sampahmu di gunung, jangan gunakan sabun di gunung, jangan ambil apapun dari gunung. Jadilah pecinta alam bukan sekedar penikmat keindahan alam tanpa berusaha membantu menjaganya!


Notes :

Pendakian ke Gunung Gede harus melalukan registrasi online terlebih dahulu di web resmi

> Website Gunung Gede

Sabtu, 26 Juli 2014

Semua berbeda karena Air Asia

Perpisahan menjadi sangat berat ketika harus meninggalkan orang-orang yang disayangi dan meninggalkan kota paling nyaman, Jogjakarta. Akhir tahun 2011 saya pergi ke Jakarta untuk bekerja. Jauh dari keluarga, saudara, pacar, teman-teman, dan yang paling berat adalah jauh dari kenyamanan yang bisa didapat dirumah dan tentunya merantau memaksa kita untuk hidup mandiri. Ini bagian dalam hidup yang tidak pernah saya impikan.

Satu tahun pertama, minimal dua bulan sekali saya sisihkan gaji untuk membeli selembar tiket kereta pulang ke Jogja. Berangkat jumat malam sepulang dari kantor dan kembali lagi ke Jakarta minggu malam adalah rutinitas yang paling saya nantikan kala itu. Makluim derita LDR.

Sampai pada pertengahan tahun, sebelum tidur saya mengecheck HP dan ada chat masuk dari teman saya, Dessy.

"Ada tiket promo Air Asia ke Bali lho, mau ga?"

Dan singkat cerita kita mendapatkan tiket Jakarta - Bali dengan harga IDR 400.000++ atau sekitar IDR 500.000 kurang sedikit lah untuk PP Jakarta - Bali per orang.

Tidak pernah terpikirkan untuk berlibur ke tempat lain karena bagi saya lebih senang untuk "mudik" selama setahun pertama di Jakarta. Tapi karena harga untuk berlibur yang ditawarkan Air Asia ini seharga dengan tiket PP saya naik kereta ke Jogja, akhirnya saya membelinya. Yang terpenting bukan kemana tujuannya tapi dengan siapa kamu pergi.

Fly with Air Asia
Perjalanan menyenangkan saya habiskan selama 5 hari 4 malam untuk mengelilingi Pulau Dewata. Dari perjalanan singkat itu membuat saya ketagihan untuk keliling destinasi menarik lainnya dengan Air Asia.

Hello Bali
Setelah perjalanan saya ke Bali bersama teman-teman, saya menjadi lebih rajin mencari tiket promo Air Asia daripada mencari tiket pulang ke Jogja. Bukan karena tidak cinta jogja tapi lebih ingin melihat keindahan Indonesia dari berbagai sisi atau mungkin suatu saat bisa melihat keindahan dunia dari berbagai sudut.

Bagi LDR mungkin pepatah yang paling cocok adalah cintaku berat di ongkos, tapi berkat Air Asia juga selama hampir tiga tahun LDR ini bisa kita jalani dengan menyenangkan karena kita bisa "ketemuan" di luar Jogja dan mengeksplore berbagai tempat indah di Indonesia.

Berkat perjalanan singkat itu saya juga menemukan passion saya. Bahkan dari berbagai perjalanan yang saya lakukan membawa saya untuk menggemari permainan baru saya yaitu menulis blog tentang cerita travelling kita. Blog travelling tidak hanya bermanfaat buat para traveller yang ingin berpergian tanpa tour, tapi dari setiap perjalanan yang kita tulis dalam blog dan dibaca oleh banyak orang, kita bisa mengenalkan banyak tempat indah di Indonesia atau pun tempat lainnya.

Dari travelling saya juga belajar tentang banyak hal, bertemu dengan banyak orang, dan banyak hal-hal menyenangkan yang bisa saya eksplore di luar sana.

Mengingat 3 tahun yang lalu, Sebelum bekerja mungkin sebagai anak yang belum mandiri, belum bisa mencari uang sendiri, liburan kita menjadi terbatas karena hanya menunggu liburan keluarga. Setelah bekerja pun selama satu tahun pertama terasa menjalankan rutinitas yang membosankan walau jika diingat waktu itu, rutinitas semacam itu sudah menjadi hal paling menyenangkan. Tapi berkat Air Asia, semua menjadi lebih berwarna. Semua perjalanan yang saya tulis di blog ini pun berawal dari perjalanan singkat saya ke Bali.

Berharap suatu saat juga bisa menulis buku tentang travelling seperti kak Trinity. Apalagi pekerjaan yang paling menyenangkan kalau bukan hobby yang dibayar? -Ridwan Kamil- *cheers*

Travel is the only thing you buy that makes you richer - unknown
Perjalanan akan selalu menguras tabungan, tapi dari setiap perjalanan mengajarkan kita untuk melihat hal-hal baru. Apabila kita bisa menghemat akomodasi perjalanan, maka kita bisa mengalokasikan untuk mengeksplore tempat yang kita kunjungi. Air Asia dan berbagai tiket promonya telah mensponsori tiap perjalananku. Mulai dari Bali, Singapore dengan harga IDR 500.000 PP, Jakarta - Jogja 200ribuan, ke Phuket dengan harga IDR 800.000 PP.

Sekarang kalian bisa menjawab kan, Maskapai merah yang selalu memanjakan kita dengan tiket promonya?

Kalau maskapai merah yang suka delay apa? *mikir dulu* =D


Happy Travelling and Be a  Responsible Traveller !

Vika Felina

Sabtu, 19 Juli 2014

Desa Bohe Silian dan Gua Sembat

Maratua - Desa Bohe Silian merupakan Desa Tertua di pulau Maratua. Di pulau maratua memiliki tempat wisata selain pantai, yaitu Gua. Sore hari itu, rasa penasaran menghantarkan kita mengunjungi desa Bohe Silian. Di Desa ini kita ingin mengunjungi gua yang katanya ber-air biru (blue cave).

Perjalanan cukup panjang kita lalui dengan menggunakan speed boat. Perjalanan sore itu menyuguhkan pemandangan alam yang indah. Coral yang bisa kita lihat di permukaan air laut yang bening.

Karang laut dan air yang jernih







Tak perlu bersnorkeling, perjalanan kita menuju Desa Bohe Silian ini kita bisa melihat coral dari permukaan air karena air disini masih sangat jernih. Tetapi boat yang kita tumpangi harus beberapa kali memperlambat laju jalannya agar tidak menabrak karang-karang yang indah ini.



Setelah memarkirkan boat di dermaga, kita melanjutkan perjalanan menuju Gua. Gua itu bernama Gua Sembat. Perjalanan menuju gua ini kita melewati perkampungan penduduk. Penduduk disini sangat ramah dan banyak anak kecil yang mengikuti kita menuju Gua Sembat. Mereka dengan ceria menemani kita sampai ke Gua Sembat.
Suasana Perkampungan Bohe Silian
Perjalanan menuju Gua

Rute ke Gua Sembat
Melewati Jalan Sempit menuju Gua
Perjalanan kita sore itu sebenarnya merupakan perjalanan "nyasar" karena Gua yang kita maksud bukan Gua Sembat di Bohe Silian tetapi Blue Cave di Desa Payung-Payung. Tetapi sebenarnya di Gua sembat ini kita juga bisa loncat terjun seperti di Blue cave, hanya saja waktu itu kita terlalu sore sehingga kita agak takut untuk terjun kebawah karena awan semakin gelap.


Tangga untuk naik ke Gua



Anak - anak yang mengikuti kita merupakan pemandu yang baik. Mereka dengan sukarela mengantar kita hingga sampai ke gua. Mereka juga dengan senang hati meloncat ke gua, untuk meyakinkan kita bahwa gua ini ga berbahaya. 


Tua Punya Cerita with the kids
Karena sore semakin gelap, akhirnya kita memutuskan untuk kembali pulang setelah berfoto-foto dengan anak-anak Desa Bohe Silian. 


Menikmati sunset di perjalanan pulang

Perjalanan menjadi menyenangkan bukan karena kita datang ke tempat yang belum pernah kita kunjungi, bukan hanya soal keindahan tempatnya tapi bagaimana kita bisa mengenal orang-orang baru dan berinteraksi dengan mereka. 

Baca Cerita Lainnya :

Minggu, 06 Juli 2014

Maratua Punya Gua Biru (Blue Cave)

Payung-Payung - Belum banyak yang tahu tentang Blue Cave di Pulau Maratua. Kebanyakan wisatawan menganggap tempat wisata di Derawan, Kakaban, Sangalaki, dan Maratua hanya seputar pantai dan air laut.

Di desa payung-payung, yang berjarak sekitar 7 km dari penginapan kita, Maratua Paradise Resort, kita bisa menemukan hidden paradise yang belum terjamah banyak pengunjung ini. Beruntung banget kita bisa kesini. Di temani Pak Erwin, pengelola maratua paradise resort, kita menyewa motor untuk pergi ke blue cave ini.


Spot tempat kita melompat

Untuk ke blue cave ini kita harus berjalan melewati hutan belantara yang belum ada jalan setapak atau jembatan kayu seperti di Pulau Kakaban yang memudahkan kita untuk berjalan ke lokasi itu.

Perjalanan menuju gua
Di area ini kita mulai lompat. Kata pak Erwin, kedalaman air disini bisa mencapai 30 m. Dan air nya masih jernih dan super bening.

Ya ampunn loncat lagi ini? kemarin aja udah takut, ini lebih tinggi lohhh, kataku.
Seperti biasa, aku menunggu yang lain loncat dulu untuk memastikan kalau gua ini emang aman.

Video Loncat ke Gua
Sebenarnya di ujung gua ini kalau kita mau berenang bisa tanpa loncat setinggi di spot di video di atas. Tapi karena pergi bareng orang-orang "gila" yang suka memacu adrenalin akhirnya kita loncat dari spot yang tinggi ini.

Perasaan waktu ngeliat giliran temen ngeloncat itu jauh berbeda saat kita berada diujung gua sebelum loncat. Dengan gampangnya kita menyemangati mereka untuk loncat duluan, tapi begitu giliran kita, pertanyaan ini selalu muncul.
Loncat ga ya? eh batal aja deh, serem..

Rasa deg-degan yang menjadi-jadi pas giliranku dan aku sudah mulai berdiri di pinggiran gua. Beberapa kali menengok ke bawah, berdiri, duduk lagi dipinggiran, berdiri lagi, dan semakin ragu kita meloncat, semakin deg-deg an rasanya.
Vi, tadi loncat hidung ditutup ga? kemasukan air ga? Serem ga sihhh? Tanya ku pada Vivi.
Udah loncat aja, seru! kata Vivi memberi semangat.

Lalu pikiran ini mulai muncul, mungkin aku memang takut ketinggian, tapi setelah berdiri di tepi gua ini, pikiran takut menyesal jauh lebih besar daripada takut dengan ketinggian.

Saat meloncat, ak merasa melayang beberapa detik tanpa ada pegangan pengaman, detik-detik sebelum badan ini tenggelam di air, mataku terpejam dannnnn

byuuurrrrrr . . . 

Wooow berhasil!! teriak kegirangan banget karena ternyata seru.  Sempet deg-deg an juga setelah tercebur dan cepat-cepat berusaha berenang ke permukaan air setelah beberapa detik masuk ke air.

Ternyata seru banget! Super Seru! Airnya seger dingin bisa mendinginkan kulit kita yang terbakar karena panasnya matahari di pulau ini. Kita bisa melihat dasar air tanpa menggunakan goggles karena airnya jernih banget.

We Made it !!!
Setelah kita semua loncat dan berendam, kita berenang menuju gua yang berada diujung. Di gua itu air akan terlihat lebih biru karena ada sinar matahari yang menyinari sudut gua.

No Edit, Biru Banget !!


Rasanya puas banget bisa ngerasain loncat di blue cave ini. Wajib banget dicoba buat yang bersinggah ke maratua karena belum banyak yang berkunjung ke blue cave ini.



Setelah naik ke daratan, awan mulai gelap dan sedikit mendung. Saat perjalanan pulang menuju tempat parkir motor kita tadi, hujan mulai mengguyur kita. Tapi itu semua ga bikin kita badmood, karena pengalaman yang tak terlupakan adalah pengalaman yang kita dapat tanpa kita harapkan itu akan terjadi.
Selamat Tinggal Blue Cave


Full Team yey
Disini aku belajar untuk tidak takut dengan ketinggian, bukan berarti nekat ya karena memang tidak berbahaya. Ga perlu lama berpikir, just jump! toh ini bukan ujian hidup yang perlu berpikir lama :))

Satu hal lagi, takut ga membuat kamu menikmati apa yang bisa kamu nikmati. Selagi masih muda, nekad itu ga masalah! karena bermain dengan adrenalin mungkin tidak bisa kita lakukan saat kita tak muda lagi.

Berwisata dengan alam memang serba tidak terprediksi, cuacanya, kondisi alamnya, Nikmatilah apa yang kalian dapat disana. Mengeluh ga membuat cuaca menjadi baik juga, malah akan mengurangi waktu mu menikmati liburan dengan alam.

"Berpetualanglah selagi muda, jangan biarkan tua datang begitu saja, biarkan ia datang membawa cerita"
#TuaPunyaCerita adalah nama dari perjalanan kita.

Note : 
  • Harga sewa motor IDR 100.000 per motor
  • Biaya motor yang digunakan oleh pemandu ditanggung kita.
  • Tarif menyewa motor sudah termasuk biaya bensin

Baca Cerita Lainnya : 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...