Sabtu, 26 Juli 2014

Semua berbeda karena Air Asia

Perpisahan menjadi sangat berat ketika harus meninggalkan orang-orang yang disayangi dan meninggalkan kota paling nyaman, Jogjakarta. Akhir tahun 2011 saya pergi ke Jakarta untuk bekerja. Jauh dari keluarga, saudara, pacar, teman-teman, dan yang paling berat adalah jauh dari kenyamanan yang bisa didapat dirumah dan tentunya merantau memaksa kita untuk hidup mandiri. Ini bagian dalam hidup yang tidak pernah saya impikan.

Satu tahun pertama, minimal dua bulan sekali saya sisihkan gaji untuk membeli selembar tiket kereta pulang ke Jogja. Berangkat jumat malam sepulang dari kantor dan kembali lagi ke Jakarta minggu malam adalah rutinitas yang paling saya nantikan kala itu. Makluim derita LDR.

Sampai pada pertengahan tahun, sebelum tidur saya mengecheck HP dan ada chat masuk dari teman saya, Dessy.

"Ada tiket promo Air Asia ke Bali lho, mau ga?"

Dan singkat cerita kita mendapatkan tiket Jakarta - Bali dengan harga IDR 400.000++ atau sekitar IDR 500.000 kurang sedikit lah untuk PP Jakarta - Bali per orang.

Tidak pernah terpikirkan untuk berlibur ke tempat lain karena bagi saya lebih senang untuk "mudik" selama setahun pertama di Jakarta. Tapi karena harga untuk berlibur yang ditawarkan Air Asia ini seharga dengan tiket PP saya naik kereta ke Jogja, akhirnya saya membelinya. Yang terpenting bukan kemana tujuannya tapi dengan siapa kamu pergi.

Fly with Air Asia
Perjalanan menyenangkan saya habiskan selama 5 hari 4 malam untuk mengelilingi Pulau Dewata. Dari perjalanan singkat itu membuat saya ketagihan untuk keliling destinasi menarik lainnya dengan Air Asia.

Hello Bali
Setelah perjalanan saya ke Bali bersama teman-teman, saya menjadi lebih rajin mencari tiket promo Air Asia daripada mencari tiket pulang ke Jogja. Bukan karena tidak cinta jogja tapi lebih ingin melihat keindahan Indonesia dari berbagai sisi atau mungkin suatu saat bisa melihat keindahan dunia dari berbagai sudut.

Bagi LDR mungkin pepatah yang paling cocok adalah cintaku berat di ongkos, tapi berkat Air Asia juga selama hampir tiga tahun LDR ini bisa kita jalani dengan menyenangkan karena kita bisa "ketemuan" di luar Jogja dan mengeksplore berbagai tempat indah di Indonesia.

Berkat perjalanan singkat itu saya juga menemukan passion saya. Bahkan dari berbagai perjalanan yang saya lakukan membawa saya untuk menggemari permainan baru saya yaitu menulis blog tentang cerita travelling kita. Blog travelling tidak hanya bermanfaat buat para traveller yang ingin berpergian tanpa tour, tapi dari setiap perjalanan yang kita tulis dalam blog dan dibaca oleh banyak orang, kita bisa mengenalkan banyak tempat indah di Indonesia atau pun tempat lainnya.

Dari travelling saya juga belajar tentang banyak hal, bertemu dengan banyak orang, dan banyak hal-hal menyenangkan yang bisa saya eksplore di luar sana.

Mengingat 3 tahun yang lalu, Sebelum bekerja mungkin sebagai anak yang belum mandiri, belum bisa mencari uang sendiri, liburan kita menjadi terbatas karena hanya menunggu liburan keluarga. Setelah bekerja pun selama satu tahun pertama terasa menjalankan rutinitas yang membosankan walau jika diingat waktu itu, rutinitas semacam itu sudah menjadi hal paling menyenangkan. Tapi berkat Air Asia, semua menjadi lebih berwarna. Semua perjalanan yang saya tulis di blog ini pun berawal dari perjalanan singkat saya ke Bali.

Berharap suatu saat juga bisa menulis buku tentang travelling seperti kak Trinity. Apalagi pekerjaan yang paling menyenangkan kalau bukan hobby yang dibayar? -Ridwan Kamil- *cheers*

Travel is the only thing you buy that makes you richer - unknown
Perjalanan akan selalu menguras tabungan, tapi dari setiap perjalanan mengajarkan kita untuk melihat hal-hal baru. Apabila kita bisa menghemat akomodasi perjalanan, maka kita bisa mengalokasikan untuk mengeksplore tempat yang kita kunjungi. Air Asia dan berbagai tiket promonya telah mensponsori tiap perjalananku. Mulai dari Bali, Singapore dengan harga IDR 500.000 PP, Jakarta - Jogja 200ribuan, ke Phuket dengan harga IDR 800.000 PP.

Sekarang kalian bisa menjawab kan, Maskapai merah yang selalu memanjakan kita dengan tiket promonya?

Kalau maskapai merah yang suka delay apa? *mikir dulu* =D


Happy Travelling and Be a  Responsible Traveller !

Vika Felina

Sabtu, 19 Juli 2014

Desa Bohe Silian dan Gua Sembat

Maratua - Desa Bohe Silian merupakan Desa Tertua di pulau Maratua. Di pulau maratua memiliki tempat wisata selain pantai, yaitu Gua. Sore hari itu, rasa penasaran menghantarkan kita mengunjungi desa Bohe Silian. Di Desa ini kita ingin mengunjungi gua yang katanya ber-air biru (blue cave).

Perjalanan cukup panjang kita lalui dengan menggunakan speed boat. Perjalanan sore itu menyuguhkan pemandangan alam yang indah. Coral yang bisa kita lihat di permukaan air laut yang bening.

Karang laut dan air yang jernih







Tak perlu bersnorkeling, perjalanan kita menuju Desa Bohe Silian ini kita bisa melihat coral dari permukaan air karena air disini masih sangat jernih. Tetapi boat yang kita tumpangi harus beberapa kali memperlambat laju jalannya agar tidak menabrak karang-karang yang indah ini.



Setelah memarkirkan boat di dermaga, kita melanjutkan perjalanan menuju Gua. Gua itu bernama Gua Sembat. Perjalanan menuju gua ini kita melewati perkampungan penduduk. Penduduk disini sangat ramah dan banyak anak kecil yang mengikuti kita menuju Gua Sembat. Mereka dengan ceria menemani kita sampai ke Gua Sembat.
Suasana Perkampungan Bohe Silian
Perjalanan menuju Gua

Rute ke Gua Sembat
Melewati Jalan Sempit menuju Gua
Perjalanan kita sore itu sebenarnya merupakan perjalanan "nyasar" karena Gua yang kita maksud bukan Gua Sembat di Bohe Silian tetapi Blue Cave di Desa Payung-Payung. Tetapi sebenarnya di Gua sembat ini kita juga bisa loncat terjun seperti di Blue cave, hanya saja waktu itu kita terlalu sore sehingga kita agak takut untuk terjun kebawah karena awan semakin gelap.


Tangga untuk naik ke Gua



Anak - anak yang mengikuti kita merupakan pemandu yang baik. Mereka dengan sukarela mengantar kita hingga sampai ke gua. Mereka juga dengan senang hati meloncat ke gua, untuk meyakinkan kita bahwa gua ini ga berbahaya. 


Tua Punya Cerita with the kids
Karena sore semakin gelap, akhirnya kita memutuskan untuk kembali pulang setelah berfoto-foto dengan anak-anak Desa Bohe Silian. 


Menikmati sunset di perjalanan pulang

Perjalanan menjadi menyenangkan bukan karena kita datang ke tempat yang belum pernah kita kunjungi, bukan hanya soal keindahan tempatnya tapi bagaimana kita bisa mengenal orang-orang baru dan berinteraksi dengan mereka. 

Baca Cerita Lainnya :

Minggu, 06 Juli 2014

Maratua Punya Gua Biru (Blue Cave)

Payung-Payung - Belum banyak yang tahu tentang Blue Cave di Pulau Maratua. Kebanyakan wisatawan menganggap tempat wisata di Derawan, Kakaban, Sangalaki, dan Maratua hanya seputar pantai dan air laut.

Di desa payung-payung, yang berjarak sekitar 7 km dari penginapan kita, Maratua Paradise Resort, kita bisa menemukan hidden paradise yang belum terjamah banyak pengunjung ini. Beruntung banget kita bisa kesini. Di temani Pak Erwin, pengelola maratua paradise resort, kita menyewa motor untuk pergi ke blue cave ini.


Spot tempat kita melompat

Untuk ke blue cave ini kita harus berjalan melewati hutan belantara yang belum ada jalan setapak atau jembatan kayu seperti di Pulau Kakaban yang memudahkan kita untuk berjalan ke lokasi itu.

Perjalanan menuju gua
Di area ini kita mulai lompat. Kata pak Erwin, kedalaman air disini bisa mencapai 30 m. Dan air nya masih jernih dan super bening.

Ya ampunn loncat lagi ini? kemarin aja udah takut, ini lebih tinggi lohhh, kataku.
Seperti biasa, aku menunggu yang lain loncat dulu untuk memastikan kalau gua ini emang aman.

Video Loncat ke Gua
Sebenarnya di ujung gua ini kalau kita mau berenang bisa tanpa loncat setinggi di spot di video di atas. Tapi karena pergi bareng orang-orang "gila" yang suka memacu adrenalin akhirnya kita loncat dari spot yang tinggi ini.

Perasaan waktu ngeliat giliran temen ngeloncat itu jauh berbeda saat kita berada diujung gua sebelum loncat. Dengan gampangnya kita menyemangati mereka untuk loncat duluan, tapi begitu giliran kita, pertanyaan ini selalu muncul.
Loncat ga ya? eh batal aja deh, serem..

Rasa deg-degan yang menjadi-jadi pas giliranku dan aku sudah mulai berdiri di pinggiran gua. Beberapa kali menengok ke bawah, berdiri, duduk lagi dipinggiran, berdiri lagi, dan semakin ragu kita meloncat, semakin deg-deg an rasanya.
Vi, tadi loncat hidung ditutup ga? kemasukan air ga? Serem ga sihhh? Tanya ku pada Vivi.
Udah loncat aja, seru! kata Vivi memberi semangat.

Lalu pikiran ini mulai muncul, mungkin aku memang takut ketinggian, tapi setelah berdiri di tepi gua ini, pikiran takut menyesal jauh lebih besar daripada takut dengan ketinggian.

Saat meloncat, ak merasa melayang beberapa detik tanpa ada pegangan pengaman, detik-detik sebelum badan ini tenggelam di air, mataku terpejam dannnnn

byuuurrrrrr . . . 

Wooow berhasil!! teriak kegirangan banget karena ternyata seru.  Sempet deg-deg an juga setelah tercebur dan cepat-cepat berusaha berenang ke permukaan air setelah beberapa detik masuk ke air.

Ternyata seru banget! Super Seru! Airnya seger dingin bisa mendinginkan kulit kita yang terbakar karena panasnya matahari di pulau ini. Kita bisa melihat dasar air tanpa menggunakan goggles karena airnya jernih banget.

We Made it !!!
Setelah kita semua loncat dan berendam, kita berenang menuju gua yang berada diujung. Di gua itu air akan terlihat lebih biru karena ada sinar matahari yang menyinari sudut gua.

No Edit, Biru Banget !!


Rasanya puas banget bisa ngerasain loncat di blue cave ini. Wajib banget dicoba buat yang bersinggah ke maratua karena belum banyak yang berkunjung ke blue cave ini.



Setelah naik ke daratan, awan mulai gelap dan sedikit mendung. Saat perjalanan pulang menuju tempat parkir motor kita tadi, hujan mulai mengguyur kita. Tapi itu semua ga bikin kita badmood, karena pengalaman yang tak terlupakan adalah pengalaman yang kita dapat tanpa kita harapkan itu akan terjadi.
Selamat Tinggal Blue Cave


Full Team yey
Disini aku belajar untuk tidak takut dengan ketinggian, bukan berarti nekat ya karena memang tidak berbahaya. Ga perlu lama berpikir, just jump! toh ini bukan ujian hidup yang perlu berpikir lama :))

Satu hal lagi, takut ga membuat kamu menikmati apa yang bisa kamu nikmati. Selagi masih muda, nekad itu ga masalah! karena bermain dengan adrenalin mungkin tidak bisa kita lakukan saat kita tak muda lagi.

Berwisata dengan alam memang serba tidak terprediksi, cuacanya, kondisi alamnya, Nikmatilah apa yang kalian dapat disana. Mengeluh ga membuat cuaca menjadi baik juga, malah akan mengurangi waktu mu menikmati liburan dengan alam.

"Berpetualanglah selagi muda, jangan biarkan tua datang begitu saja, biarkan ia datang membawa cerita"
#TuaPunyaCerita adalah nama dari perjalanan kita.

Note : 
  • Harga sewa motor IDR 100.000 per motor
  • Biaya motor yang digunakan oleh pemandu ditanggung kita.
  • Tarif menyewa motor sudah termasuk biaya bensin

Baca Cerita Lainnya : 

Sabtu, 05 Juli 2014

Maratua, Laut Biru, dan Bintang-Bintang yang Menghiasinya

Maratua - Pulau yang berjarak 1.5 jam dari pulau derawan ini menjadi terkenal karena keindahan pantai dan villa-villa yang menghiasi area pantai pulau maratua. Berbeda dengan pulau derawan yang lebih banyak penduduk, pulau maratua lebih sepi dan hanya ada 1 penginapan diatas air disana. Selebihnya homestay di rumah penduduk.

Maratua Paradise Resort
Dermaga Memasuki Area Water Villa
Pulau ini hanya ada sinyal dari provider Telkomsel. Listrik tidak 24 jam, tetapi di Maratua Paradise Resort kita tetap bisa menggunakan listrik 24 jam karena mereka memiliki genset. Memang belum banyak pembangunan disini tapi bukan berarti pulau ini tidak maju.



Dengan berbagai keterbatasan ini saya merasa diuntungkan. Sadarkah kita, kadang kurang menikmati liburan karena lebih memprioritaskan ke-eksis-an kita di dunia maya, sibuk dengan gadget masing-masing? Tanpa sinyal internet disini kita jadi lebih menikmati setiap waktu bermain air memikiran, "mau upload dulu dong" atau "mau check - in dulu dong biar eksis" Kemajuan teknologi memang membantu kita memudahkan mencari informasi dan sebagainya tapi efek negatifnya kita menjadi kurang berinteraksi dengan orang disekeliling kita.

Maratua paradise resort merupakan penginapan yang dimiliki oleh orang Malaysia. Di Maratua Paradise Resort ini memiliki 2 pilihan penginapan yaitu
  1. Water Villa ; penginapan villa yang berada di atas air 
  2. Beach Challet ; penginapan yang berada di pinggir pantai
Penginapan di water villa ini terdapat 10 villa di atas air. Setiap tamu disini mendapat fasilitas berupa makan 3x sehari dari pihak resort karena di pulau maratua tidak ada warung kecuali diperkampungan penduduk. Untuk pengunjung yang tidak menginap dan ingin memasuki area water villa ini dikenakan tarif IDR 30.000 per orang.

Water Villa No. 8
Teras di depan Kamar
Area penginapan beach challet ini berada di pinggir pantai yang letaknya di belakang bangunan water villa. ada 5 villa di area beach challet tetapi fasilitas yang di dapatkan tetap sama yaitu makan 3x sehari dari pihak resort.

Area Beach Challet
Villa di area Beach Challet
Siang itu, setelah perjalanan dari pulau kakaban kita sampai di Pulau Maratua. Di sambut oleh Pak Erwin sang pengelola villa, kita diantar ke kamar yang sudah kita pesan. Spot paling diminati disana adalah water villa no. 8 dan 9 karena berada di dekat dermaga. Pagi hari banyak penyu yang berenang ke sekitar dermaga untuk mencari makan.

Kamar di Water Villa
Kamar di Water Villa
Kondisi air laut di siang hari di Pulau maratua ini berbeda dengan menjelang sunset karena siang hari air laut surut. Tapi berbeda saat air mulai memenuhi area pinggir pantai di maratua paradise resort, ikan-ikan ikut berenang menghiasi area dibawah villa-villa penginapan kita.

Water Villa saat air surut di siang hari
Water Villa saat air pasang di sore hari
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, menjelang sore hari setelah sunset, air laut mulai memenuhi area dibawah villa kami. Banyak ikan-ikan yang ikut berenang beriringan dengan air laut yang mulai meninggi di area villa kami.
Kita menjadi bersemangat kembali kekamar untuk memompa pelampung kasur untuk bermain air di area villa.
Memompa pelampung sandal
Petualang Sandal Jepit
Sunset sudah lewat, langit mulai gelap dan kita akan berjalan kepinggir pantai untuk bermain bersama pelampung yang baru saja kita pompa. Jarak antara water villa dengan pinggir pantai (lokasi beach challet) lumayan jauh.

Suasana Langit setelah sunset
"Kita loncat langsung aja dari jembatan ini, ga usah jalan jauh-jauh ke pinggir pantai, toh nanti basah juga" teriak si Harris.
Aku yang memang takut ketinggian, mulai ragu untuk mengikuti ajakannya.
"yang bener aja, tar kalo ketinggian pas loncat kakinya kepentok dasar, seremmm"

Lalu ga lama tanpa ba bi bu akhirnya Byuuuuurrrr . . .  Harris jadi orang pertama diantara kita yang loncat ke air.
Selanjutnya dengan sedikit ragu-ragu yudheng mau meloncat. Tapi loncatannya batal karena ada penyu yang kebetulan berenang dibawah jembatan tempat kita akan loncat.
Byuuuuurrrr . . . suara hempasan air saat yudheng sudah loncat. Dan karena sudah ada 2 orang yang loncat akhirnya aku dan Vivi menyusul dan ternyata serruuuuuu! 


Langit mulai gelap
Awan semakin gelap, ga banyak lampu di area water villa membuat bintang-bintang terlihat lebih bersinar. Sambil tiduran diatas kasur angin, mata ini tak ingin berkedip mengagumi keindahan malam di pulau maratua. 
Air yang tenang di sekitar villa di Pulau Maratua ini, membuat saya ga takut untuk berlama-lama diatas pelampung sambil menikmati bintang menghiasi langit.

Pengalaman ini jarang bisa dirasakan walaupun kita wisata ke pantai karena kondisi ombak dan air laut di masing-masing pantai berbeda. Tetapi di maratua ini airnya sangat tenang dan kita bisa menikmati berlama-lama diatas air tanpa takut terbawa ombak ke tengah.

Setiap menikmati keindahan alam saya selalu berimajinasi. Dan kali ini diatas pelampung air ini, saya berpikir kalau seperti di film-film di shooting dan jarak shotnya semakin lama semakin menjauh, saya ini sedang berada di pulau kecil di ujung kalimantan yang mungkin saja pulaunya tidak terlihat saat peta mulai di zoom out.

"seru juga ya ko" kataku pada yudheng yang mengapung bersandar di pelampungku. Kalau dipikir-pikir lagi ya ko, sekarang ini mungkin temen-temen kantor lagi melewati kemacetan ibu kota untuk pulang ke kos, dan mungkin saudara kita ada yang lagi makan malam diatas meja makan, melakukan rutinitas mereka, dan bahkan pengunjung water villa lainnya mungkin sedang makan malam di area resto water villa.

Sedangkan kita, malem-malem masih main air, tidur diatas pelampung air di pantai yang luas banget dan cuma ada kita berempat yang "aneh-aneh" main air malem hari gini. Ngapain cobaaaa??

"justru itu seru nya tooo" kata yudheng. Kalau liburan biasa-biasa aja ya ga ada ceritanya! kan jarang tu kita lihat bintang-bintang sambil santai-santai main air gini.

Menerbangkan Lampion
Setelah puas memandang bintang dari atas air, kita makan malam dan menerbangkan lampion harapan. Semoga tahun depan kita bisa berpetualang bersama lagi, mengexplore keindahan Indonesia.

Setelah makan malam, kali ini kita menuju dermaga di Turtle Point karena belum puas menikmati langit malam itu di Maratua. Langit jam 11.00 malam itu tetap terang dengan bintang yang bertaburan di langit Maratua.



Dermaga
Talking to the Moon
Lagi-lagi alarm berbunyi pukul 05.00 pagi. Dengan penuh semangat kita bangun menuju dermaga untuk melihat sunrise. Selalu ada alasan untuk bangun pagi, disini, tidak untuk bangun pagi saat berangkat kerja hahaha




Memanfaatkan hari terakhir di pulau maratua ini, kita bermain air lagi di area sekitar villa sebelum air kembali surut. Air terlihat biru indah saat matahari mulai menyinari laut maratua.






Pagi itu kita bermain di pinggir pantai di sekitar area beach challet. Sambil bersantai-santai diatas pelampung air sebelum air kembali surut. Setelah air mulai surut kita menyewa motor ditemani oleh pak erwin, pengelola water villa untuk menuju blue cave di daerah payung-payung di pulau maratua.



Hujan mengguyur Pulau maratua sepulang dari blue cave, Setelah berberes kita menuju resto karena makan siang kita telah siap, sambil menikmati makanan di resto water villa kita menyantap makan siang yang sudah disiapkan. Lalu kita menggendong ransel masing-masing menuju boat untuk kembali ke pulau derawan.


Area resto outdoor


Note : 

  1. Tarif penginapan water villa IDR 770.000 per orang per malam
  2. Tarif beach challet IDR 660.000 per orang per malam
  3. Harga sudah termasuk makan 3x sehari dari Maratua Paradise Resort
Walaupun lebih murah di beach challet, saran saya lebih baik menginap di water villa karena suasana yang ditawarkan jauh berbeda dengan di beach challet. Paling tidak menginap 1 malam saat anda mengunjungi derawan dan maratua.

Bila ingin mengisi 1 villa untuk 3 orang, tarif tetap dihitung berdasarkan jumlah orang bukan jumlah kamar yang disewa.


Baca Cerita Lainnya :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...